ABK Karpet Merah Menuju Surga, Widoyo Ajak Orang Tua Kelola Keuangan Secara Islami

 

SUKOHARJO – Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) bukanlah musibah yang harus disesali, melainkan amanah istimewa yang dapat menjadi jalan kemuliaan bagi orang tuanya. Pesan inilah yang disampaikan dai sekaligus Ketua Fraksi PKS DPRD Kabupaten Sukoharjo, Widoyo, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Pelatihan Psikoedukasi Penguatan Kesejahteraan Keluarga yang diselenggarakan Dinas Sosial Kabupaten Sukoharjo di Permadirum Hotel Hapsari Sukoharjo, 8–9 Juni 2026.

Di hadapan para orang tua yang memiliki Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan relawan Sanggar Inklusi dari Kecamatan Sukoharjo, Bendosari, dan Nguter, Widoyo mengawali materinya dengan kalimat yang menguatkan hati para peserta. “ABK bukanlah musibah, tetapi anugerah. Mereka adalah karpet merah menuju surga bagi orang tuanya. Karena itu jangan pernah merasa rendah diri atau menganggap kehadiran mereka sebagai beban. Mereka adalah amanah yang Allah percayakan kepada kita,” ujar Widoyo.

Dalam sesi bertajuk “Manajemen Keuangan Keluarga yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus”, Widoyo menegaskan bahwa tantangan keluarga ABK tidak hanya berkaitan dengan aspek emosional dan pengasuhan, tetapi juga menyangkut kesiapan finansial jangka panjang. Menurutnya, pengelolaan keuangan yang baik merupakan bagian dari tanggung jawab orang tua dalam menjaga amanah Allah. Karena itu keluarga perlu memiliki perencanaan yang matang agar mampu memenuhi kebutuhan terapi, kesehatan, pendidikan, hingga masa depan anak.

Widoyo menjelaskan bahwa prinsip dasar keuangan Islami adalah keseimbangan, yaitu tidak berlebihan dan tidak pula kikir. Dalam praktiknya, keluarga harus mampu membedakan kebutuhan dan keinginan, mendahulukan kebutuhan terapi serta kesehatan anak, dan menghindari gaya hidup konsumtif yang hanya didorong oleh gengsi sosial. Ia juga mengingatkan pentingnya budaya mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran keluarga. Dengan pencatatan yang baik, orang tua dapat memetakan kebutuhan rutin maupun kebutuhan jangka panjang anak secara lebih terukur. “Banyak keluarga sebenarnya bukan kekurangan penghasilan, tetapi belum memiliki perencanaan yang jelas. Ketika kebutuhan terapi atau pendidikan muncul, mereka tidak siap karena tidak memiliki anggaran dan tabungan yang memadai,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Widoyo memaparkan lima prioritas utama keuangan keluarga ABK, yaitu kebutuhan pokok keluarga, kesehatan anak, pendidikan, dana darurat, dan tabungan jangka panjang untuk masa depan anak.

Salah satu pesan yang paling mendapat perhatian peserta adalah saat Widoyo mengajak peserta mengubah pola pikir dalam mengelola keuangan keluarga. “Rumus yang benar bukan Pendapatan dikurangi Pengeluaran sama dengan Tabungan. Tetapi Pendapatan dikurangi Tabungan sama dengan Pengeluaran. Menabung harus menjadi prioritas sejak awal, bukan menunggu ada sisa,” tegasnya. 

Selain membahas perencanaan keuangan, Widoyo juga mengingatkan pentingnya menghindari utang konsumtif yang tidak produktif. Menurutnya, keluarga harus fokus pada pengeluaran yang benar-benar mendukung kesehatan, pendidikan, dan kemandirian anak. Ia juga mengajak peserta untuk terus belajar memahami kebutuhan spesifik anak, mencari peluang penghasilan tambahan yang halal, membangun jejaring dukungan sosial, serta tidak melupakan sedekah sebagai salah satu pintu keberkahan rezeki. “Keuangan yang sehat bukan hanya soal besar kecilnya penghasilan. Yang lebih penting adalah keberkahan, kedisiplinan, dan kemampuan mengelolanya dengan benar,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sukoharjo, dr. Yunia Wahdiati, M.Si., saat membuka kegiatan menegaskan bahwa pelatihan tersebut merupakan bentuk nyata kehadiran pemerintah dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Menurutnya, aspirasi mengenai pendampingan bagi keluarga yang memiliki ABK terus muncul di tengah masyarakat sehingga pemerintah daerah merasa perlu menghadirkan program yang memberikan penguatan pengetahuan, keterampilan, dan dukungan psikologis bagi keluarga. “Pemerintah harus hadir dalam berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, terutama keluarga yang memiliki Anak Berkebutuhan Khusus. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk komitmen tersebut,” ujarnya.

Pada hari kedua, kegiatan dibuka oleh Kepala Bidang Pengembangan dan Penanganan Kesejahteraan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Sukoharjo, Aris Hasyim Junaidi, S.E. Dalam paparannya, ia menjelaskan berbagai program pemerintah yang dapat diakses masyarakat, khususnya kelompok masyarakat yang berada pada desil 1 hingga 5. Pelatihan selama dua hari tersebut dipandu oleh Tim Biro Psikologi Obsesi di bawah pimpinan Budi Lestari, S.Psi. Melalui berbagai sesi edukasi dan pendampingan, peserta memperoleh bekal untuk memperkuat ketahanan mental, meningkatkan kemampuan pengasuhan, serta membangun kemandirian ekonomi keluarga.

Di akhir sesi, Widoyo kembali mengingatkan para orang tua agar tidak kehilangan harapan dalam mendampingi anak-anak mereka. “Jangan merasa sendiri. Kesabaran dalam merawat dan mendidik anak istimewa adalah ibadah yang sangat besar nilainya di sisi Allah. Bisa jadi anak-anak inilah yang kelak menjadi sebab orang tuanya dimuliakan oleh Allah di dunia maupun di akhirat,” pungkasnya.

Newest
Previous
Next Post »